Posts Tagged 'bahasa inggris'

Ada banyak jalan kebaikan

Angin pagi semilir lirih. Terasa sejuk dan damai. Matahari belum perkasa menerobos gumpalan mendung di pagi itu. Dedaunan lebat menghijau, berkat limpahan air hujan yang turun deras sejak bulan Desember yang lalu. Masih ada sekian bulan lagi ke depan. Pastinya pepohonan bergembira ria mendapat guyuran hujan yang turun dari langit hamoir setiap hari.

Di pagi itu, baru ada satu dua anak-anak Rumah Baca yang hadir, sambil menenteng tas punggung, berisi buku catatan dan buku pinjaman perpustakaan yang sudah waktunya untuk dikembalikan. Mereka akan mencatat sendiri buku-buku yang dipinjam, mencoret pada buku catatan, dan kemudian menambahkan nomor buku pada pinjaman berikutnya. Begitulah, anak-anak diberi kepercayaan untuk meminjam buku, membaca, mengembalikan, dan merawat buku dengan baik. Kalaupun ada satu dua yang rusak, kecemplung air, atau robek, itu sudah menjadi resiko. Harga sebuah proses yang harus dilalui.

Sudah ada sekian bulan terakhir ini jumlah kunjungan anak-anak di Rumah Baca kian menurun. Mungkinkah mereka bosan? Beberapa di antaranya sudah memasuki usia SMP. Itu adalah fase pergolakan hebat untuk seorang anak untuk menemukan siapa dirinya. Bagi anak perempuan, banyak yang tergoda untuk mempunyai pacar, sibuk dengan urusan pubersitas. Bagi anak laki-laki, saatnya berpetualang, mencoba menjajal jadi lelaki, bermain bola di lapangan futsal berbayar, bermain burung aduan, atau memancing di empang.

Rumah Baca tak pernah membatasi diri. Siapa saja boleh datang, mulai dari anak-anak sekelas play group hingga dewasa. Bahkan sekarang mulai merambah anak-anak dewasa, dengan kegiatan kursus Bahasa Inggris gratis. Mereka adalah pemuda Karang Taruna yang tangguh, dan ingin maju berkembang.

Ini seleksi alam. Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan hasil di kemudian hari. Siapa yang diam tak bergerak, akan membusuk bagai air yang menggenang. Bukankah air yang bergerak mengalir lebih menyehatkan?

Justru pada titik kritis ini, pada tahun ke lima, Rumah Baca masih akan terus bergerak mengalir. Menjaga dan merawat mereka yang masih mau bersungguh-sungguh. Dan justru pada titik kritis ini, Rumah Baca mendapat suntikan semangat baru dari para sukarelawan, volunteer, yang masih mau menyumbangkan sebagian energy positif mereka untuk kebaikan.

Mereka adalah Bapak Manuel Iskandar, pernah lama tinggal di AS lebih dari 20 tahun, dan sekarang menjadi guru Bahasa Inggris; Kak Naya, returnee program YES yang pernah tinggal di Oak Park, Illionois, Chicaco; Kak Isabelle, siswa pertukaran pelajar AFS dari Amerika Serikat yang kini tinggal di daerah Cibubur. Ketiganya meramikan suasana pagi itu, 31 Januari 2016, dipandu oleh Kak Imastari Wulansuci, returnee program YES yang pernah tinggal di Palestine, Texas.

Acara dibuka dengan presentasi Kak Naya tentang social media. Ini topik actual, karena hampi setiap anak pasti punya social media. Nah, Kak Naya berbagi pengetahuan tentang bagiamana cara bersosial media dengan aman dan positif. Jangan sampai kita jadi korban bullying, penipuan, atau bahkan penculikan. Kak Naya sudah menyiapkan berbagai alat presentasi, seperti gambar platform media social, seperti Facebook, Twitter, Instagram, hingga platform baru seperti Qlue, yang kini sedang populer di Jakarta sebagai media menampung aspirasi dan keluhan masyarakat kepada pemerintah.

naya

Kak Naya sedang menjelaskan tentang sosial media yang aman dan positif.

Acara dilanjutkan dengan tes Bahasa Inggris dari pelajaran sebelumnya oleh Bapak Manuel Iskandar. Para peserta lumayan grogi dan deg-degan ketika diminta mengisi lembar tes yang dibagikan. Itu adalah tes tertulis, sebagai ukuran sejauh mana mereka mampu menyerap ilmu dari pelajaran sebelumnya.

isk.jpg

Pak Iskandar memberikan kesempatan kepada Isabelle untuk menjadi native speaker.

Nah, kemudian giliran mereka mempraktekan pengetahuan mereka dengan langsung mendengar dan berbicara dengan Kak Isabelle. Kak Isabelle mulai bercerita tentang Amerika Serikat, mulai dari cuaca, makanan, suasana alam, binatang piaraan, hingga perbedaan ukuran. Semuanya disampaikan dalam Bahasa Inggris. Seluruh peserta mendengarkan dengan seksama. Tentu ada banyak kata-kata yang tak tertangkap artinya. Tapi tak mengapa. Hari itu, mereka memang hanya membiasakan diri mendengar percakapan dalam Bahasa Inggris.

isabellle 2

Kak Isabelle dengan gembira menjelaskan tentang Amerika, dalam Bahasa Inggris, dibantu Kak Imastari dan Kak Naya

Maka sesi tanya jawab menjadi seru, karena mereka bertanya sambil terbata-bata, bercampur Bahasa Indonesia di sana-sini. Ini pengalaman paling mengesankan buat mereka. Karena belajar Bahasa tak ada guna kalau hanya menyimpannya di kepala dan tak pernah dipraktekan langsung. Kak Isabelle dengan senang menjawab dan menanggapi semua pertanyaa, termasuk memberi apresiasi kepada peserta yang sudah berani berbicara dalam Bahasa Inggris. Kak Naya dan Kak Imastari turut membantu meramikan sesi pelajaran Bahasa Inggris ini.

Terima kasih semuanya. Semoga jalan kebaikan ini akan terus menular, bergerak, mengalir tiada henti.

Advertisements

The First English

DSC_0636

Bapak Manuel Iskandar sedang menjelaskan tentang perbedaan mendasar Bahasa Inggris dengan Bahasa Indonesia di Rumah Baca

Yang pertama selalu mendebarkan. Perasaan seperti itu pula yang dialami oleh seluruh peserta kursus bahas Inggris gratis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca di hari Minggu, 17 Januari 2016. Kegiatan ini terselenggara berkat kesediaan Bapak Manuel Iskandar untuk mau berbagi ilmu dan meluangkan waktu untuk kemajuan anak bangsa. O ya, pada artikel sebelumnya, pernah diulas siapa itu Bapak Manuel Iskandar.

Kegiatan kursus Bahasa Inggris grartis ini rencananya akan diselenggaran secara rutin setiap hari Minggu pagi, mulai pukul 9 hingga 10, dan berlangsung untuk periode 3 bulan ke depan. Setelah masa itu, akan diadakan evaluasi tentang perkembangan dan kemajuan yang diperoleh, apakah akan dilanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi atau dikembangkan sendiri oleh peserta.

Rumah Baca juga akan berusaha mendatangkan native speaker, untuk menjadi mitra berlatih. Kebetulan pada tahun ini ada anak AFS (American Field Service) yang sedang tinggal di daerah Cibubur. Namanya Isabelle, dari Amerika Serikat.
Pada kesempatan pertama kursus Bahasa Inggris ini, para peserta baru mengenal teori dasar berbahasa Inggris. Dijelaskan pula tentang perbedaan mendasar antara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Perbedaanya terletak pada kata kerja (verb) yang akan berubah mengikuti keterangan waktu. Nah, ada 12 keterangan waktu yang harus dimengerti. Perubahan kata kerja terbagi dalam 2 bentuk, yakni regular dan irregular. Kalau perubahan regular verb itu gampang, karena tinggal menambahkan “ed” di belakang setiap kata kerja. Nah, yang sedikit agak susah itu adalah irregular verb, karena memang harus dihafal. Tapi, tenang dulu. Kalau kita belajar sedikit demi sedikit, dan rutin setiap waktu, insha Allah semua akan berjalan lancar, dan kita bisa menguasai Bahasa Inggris dengan baik.

Nah, untuk latihan pertama ini, peserta diminta membuat sesi perkenalan dengan simple present tense, yang meliputi perkenalan nama, tempat tinggal, hobby, umur, pekerjaan, dan jumlah saudara yang dimiliki. Sesi perkenelan ini kelihatan sepele, tapi ini hal penting karena itulah pintu pertama kita akan bisa berkomunikasi dalam Bahasa Inggris.

Ayo, belajar Bahasa Inggris di Rumah Baca. Gratis! Dan pastti sangat bermanfaat di kemudian hari!

Have a good day and good luck!

Take and give

“Take and give.” Dua kata itu sering diucapakan secara berpasangan, seperti siang dan malam, hitam dan putih, atau sedih dan gembira.

Take anda give, atau dalam bahasa Indonesia berarti mengambil dan memberi. Pertanyaanya, sebarapa banyak kita mampu melakukan keduanya secara berimbang. Jangan-jangan kita terlalu banyak mengambil dan sedikit memberi. Itu memang sifat dasar manusia, maunya enak, dan untung melulu. Tak mau rugi. Ibarat kata, seperti orang yang kelaparan dan masuk ke restoran buffet “all you can eat.” alias makan sepuasnya!

Masalahnya, seberapa besar perut sanggup menampung itu semua makanan? Alih-alih sehat, justru segera terserang kolesterol, serangan jantung, atau obesitas yang merepotkan.

Pada tingkat tertentu, manusia butuh keseimbangan. Ya itu tadi, tak hanya terus mengambil, saatnya juga harus memberi, berbagi dengan sesama.

Rumah Baca Kids kali ini mendapat sukarelawan yang luar biasa! Rumah Baca Kids mengenalnya pada saat ada pameran yang diadakan oleh Kompas, di Mall Living World, Alam Sutera, Serpong, bertajut Inspira(K)si. Dialah, Pak Manuel Iskandar bersama istrinya, Ibu Lan Lan.

Pak Manuel Iskandar ini ternyata pernah tinggal di Amerika Serikat lebih dari 20 tahun. Bekerja di Defense Department of US, atau Kementerian Pertahanan Amerika Serikat. Sering keliling dunia dengan kapal perdamaian milik Amerika Serikat, menjadi tenaga medis di rumah sakit terapung. Pernah berkunjung ke Indonesia beberapa kali, memberikan pengobatan gratis kepada penduduk Indonesia di pulau-pulau terluar dan tak terjamah fasilitas rumah sakit. Di kapal itu, sering memberikan fasilitas operasi, seperti operasi bibir sumbing, dan operasi besar lainnya.

Pernah keliling dunia dan pernah tinggal di Amerika Serikat tak membuat Pak Manuel Iskandar jumawa. Justru ketika kembali ke Indonesia, Pak Manuel Iskandar ingin memberikan sesuatu yang dia bisa berikan kepada bangsa Indonesia. salah satunya dengan menularkan kemampuan bahasa Inggris kepada mereka yang tidak mampu. Rumah Baca Kids menjadi pilihannya karyanya saat ini.

Kebetulan, saat bekerja di Defense Department itu, Pak Manuel Iskandar juga berperan sebagai penerjemah. Jadi sudah menjadi tugasnya untuk menjadi penterjemah ketika terjadi diskusi antara para jenderal angkatan laut Amerika Serikat dengan jenderal Indonesia.

Rumah Baca Kids, tentu sangat merasa bangga mendapatkan beliau untuk mau berkarya, berkiprah untuk kemajuan bangsa melalui pendidikan. Sebaliknya, ini menjadi pertaruhan bagi anak-anak dan pemuda di Bojongkulur untuk bisa membuktikan diri sebagai manusia yang mumpuni, bukan manusia yang selalu kalah, tergusur dan korban dari sebuah jaman.

Bravo! “Hidup hanya sekali, berikan yang terbaik!”

manuel 1

Pak Manuel Iskandar (berkacamata), beserta istri, Ibu Lan lan (paling kiri), di markas Rumah Baca Kids, Bojongkulur, Gunung Putri, Bogor.