Sang seniman – Asep Kosasih

Pada saat liburan keluarga ke Baduy beberapa waktu lalu, kami sekeluarga menemukan pemandangan menakjubkan pada perjalanan pulang dari Baduy ke Jakarta. Pada pertigaan Rangkasbitung, mata kami terpaku pada sebuah pemandangan “aneh” yang jarang kami saksikan. Ada sederetan plastik warna-warni yang menjejali hampir seluruh bangunan rumah. Ada seorang bapak yang sedang menyiram tanaman di sana. Sontak kami jalan memutar, kembali ingin membuktikan ada apa gerangan di sana?

Maka, mampirlah kami ke rumah “aneh” tersebut. Kami disambut ramah oleh seorang bapak yang sedang menyiram tanaman itu. Sosok bapak yang sudah memasuki usia paruh baya, tapi perawakannya masih tegap dan gagah.

“Pak, kami mohon ijin untuk mampir. Ini tadi kami merasa tergerak untuk mampir karena ingin melihat dari dekat karya seni bapak.” Kami mulai membuka obrolan. “Silahkan masuk, saya senang sekali. Bapak dari mana?” Bapak itu bertanya.

“Kami sedang liburan dari Baduy, dan tiba-tiba saja kami berhenti dan berbalik arah, karena melihat karya seni yang luar biasa ini. Kami sekeluarga datang dari Jakarta.”

“Mari-mari. Wah, saya senang sekali mendapat kunjungan ini.”

Maka kami kemudian diajak masuk, ke dalam ruangan yang juga penuh dengan karya instalasi dari plastik warna-warni itu. Kami juga diajak ke belakang rumah, ke kebun dan kolam ikan yang cukup luas. Anak-anak tampak senang gembira, serasa masuk dalam negeri dongeng.

Bapak itu kemudian memperkenalkan dirinya sebagai, Asep Kosasih. Mulailah dia bercerita bahwa pada awalnya dia mulai mengerjakan karya instalasi ini mendapat cibiran dari para tetangga. Mereka menganggap Pak Asep ini orang “gila.” Tapi Pak Asep tidak peduli. Dia jalan terus dan berkarya. Dia kemudian mengaku bahwa ini adalah sebagai bentuk pelarian dari kesepian hatinya karena ditinggal pergi istrinya 2 tahun yang lalu karena penyakit kanker. Semenjak itu Pak Asep merasa kesepian, apalagi dia sudah memasuki usia pensiun. Sebelumnya Pak Asep ini bekerja di grounding Angkasa Pura, Cengkareng.

Setiap karya yang lahir dari tangannya, satu persatu, bisa jadi mewakili kegundahan hatinya. Tapi dia percaya bahwa sang istri tercinta akan ikut tersenyum di surga, menyaksikan setiap karyanya sebagi bentuk tanda cintanya kepadanya.

Setelah dua tahun menduda, Pak Asep Kosasih merasa perlu untuk menikah lagi. Bukan dengan maksud untuk mengkhianati istrinya yang terdahulu. Cinta itu masih tersimpan di hatinya. Dia menikah lagi, karena ingin ada sesorang yang bisa merawat dan menemaninya ketika memasuki usia senja. Maklum, anak-anaknya sudah berkeluarga dan jarang menengoknya.

Kini Pak Asep Kosasih sehari-hari bercengkerama dengan karya-karyanya, dan terus berkarya sampai kelak dipanggil pulang olah Yang Maha Kuasa.

Suatu saat kami ingin kembali lagi ke sana. Semoga Bapak Asep Kosasih masih sehat-sehat saja adanya.

0 Responses to “Sang seniman – Asep Kosasih”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: