Di mana Daya Baca?

Tumbuhnya taman bacaan masyarakat dan komunitas rumah baca membawa harapan bahwa tingkat literasi bangsa Indonesia cukup membanggakan. Tapi pertumbuhan secara kuantitas, tak selalu sejalan dengan tumbuhnya kualitas minat baca masyarakat, apalagi daya baca. Merujuk pada hasil survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2011, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih ‘mau’ membaca buku secara serius (tinggi). Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) – Republika, 26 Mei 2015.

Di mana letak pangkal persoalannya?

Anies Basweden, dalam sambutan inspirasionalnya pada acara GRCC2016 (Gramedia Reading Community Competition 2016) di Perpustakaan Nasional, pada 27 Agustus 2016, menegaskan perlunya daya baca. Daya baca lebih penting daripada minat baca, karena di sana dibutuhkan karakter yang kuat oleh sebuah bangsa tentang pentingnya membaca buku. Daya beli buku secara ekonomi tak selalu sebangun dengan daya baca. Daftar belanja buku bisa menjadi urutan kesekian, manakala daya baca tak hadir di sana, meskipun daya belinya ada.

Anies menawarkan formula 4C untuk gerakan literasi, yaitu: Critical thinking, Creativity, Collaboration, dan Communication. Daya kritis masyarakat diperlukan untuk menyaring dan memilah berbagai informasi yang datang. Kreativitas akan muncul dengan sendirinya dari kebiasaan membaca. Dari sana akan muncul berbagai  inspirasi yang berasal dari berbagai bahan bacaan. Kedua karakter di atas, yakni daya kritis dan kreativitas masih memerlukan kerjasama, alias budaya gotong-royong, dan komunikasi.

Melalui sambutan inspiratifnya, Anies mengajak seluruh pegiat literasi untuk menggelorakan daya baca masyarakat melalui berbagai media komunikasi, misalnya dengan selalu memposting sesuatu yang tekait dengan buku. Karena sebuah gerakan akan berhasil apabila menular ke orang lain, dan orang lain dengan senang hati menularkanya kepada yang lain lagi. Sebuah gerakan, atau movement, akan go viral dengan cepat. Itulah bedanya gerakan dengan program. Karena program hanya akan menjadikan orang lain penonton, sementara gerakan melibatakan semua orang.

Terakhir, Anies mengingatkan pentingnya imajinasi. Dan buku menyediakan ruang yang tak terbatas untuk manusia berimajinasi.

Kegiatan GRCC2016 ini melibatkan 815 komunitas di seluruh Indonesia. Dari sana, kemudian terjaring 120 finalis pertama, yang kemudian disaring kembali menjadi 50 nominasi, dan dipillih juara 1,2,3, untuk setiap regional. Acara GRCC2016 hari ini, 27 Agustus 20916, merupakan pemilihan juara regional DKI Jakarta, Jawa barat, Banten dan Lampung. Menghasilan juara pertama sekaligus juara favorit, Komunitas Rumah Baca Ngejah, Garut. Disusul Komunitas Rumah Baca Matair, Tangerang sebagai Juara Kedua, dan Komunitas Rumah Baca Ceria, Jatibening sebagai juara ketiga.

Selamat untuk seluruh pemenang dan penggerak literasi. Rumah Baca ikut merasa bangga, meskipun hanya bisa masuk pada 120 besar finalis pada putaran pertama untuk seluruh Indonesia.

Anies Basweden, dalam sambutan inspirasionalnya pada acara GRCC2016 Regional DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Lampung.

Anies Basweden, dalam sambutan inspirasionalnya pada acara GRCC2016 Regional DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Lampung.

Bersama pegiat literasi Goodreads Indonesia, Harun dan Echa.

Bersama pegiat literasi Goodreads Indonesia, Harun dan Echa.

Bersama sang juara dari Komunitas Rumah Baca, Ngejah, Garut, Nero Taopik Abdillah

Bersama sang juara dari Komunitas Rumah Baca, Ngejah, Garut, Nero Taopik Abdillah

Ada banyak jalan kebaikan

Angin pagi semilir lirih. Terasa sejuk dan damai. Matahari belum perkasa menerobos gumpalan mendung di pagi itu. Dedaunan lebat menghijau, berkat limpahan air hujan yang turun deras sejak bulan Desember yang lalu. Masih ada sekian bulan lagi ke depan. Pastinya pepohonan bergembira ria mendapat guyuran hujan yang turun dari langit hamoir setiap hari.

Di pagi itu, baru ada satu dua anak-anak Rumah Baca yang hadir, sambil menenteng tas punggung, berisi buku catatan dan buku pinjaman perpustakaan yang sudah waktunya untuk dikembalikan. Mereka akan mencatat sendiri buku-buku yang dipinjam, mencoret pada buku catatan, dan kemudian menambahkan nomor buku pada pinjaman berikutnya. Begitulah, anak-anak diberi kepercayaan untuk meminjam buku, membaca, mengembalikan, dan merawat buku dengan baik. Kalaupun ada satu dua yang rusak, kecemplung air, atau robek, itu sudah menjadi resiko. Harga sebuah proses yang harus dilalui.

Sudah ada sekian bulan terakhir ini jumlah kunjungan anak-anak di Rumah Baca kian menurun. Mungkinkah mereka bosan? Beberapa di antaranya sudah memasuki usia SMP. Itu adalah fase pergolakan hebat untuk seorang anak untuk menemukan siapa dirinya. Bagi anak perempuan, banyak yang tergoda untuk mempunyai pacar, sibuk dengan urusan pubersitas. Bagi anak laki-laki, saatnya berpetualang, mencoba menjajal jadi lelaki, bermain bola di lapangan futsal berbayar, bermain burung aduan, atau memancing di empang.

Rumah Baca tak pernah membatasi diri. Siapa saja boleh datang, mulai dari anak-anak sekelas play group hingga dewasa. Bahkan sekarang mulai merambah anak-anak dewasa, dengan kegiatan kursus Bahasa Inggris gratis. Mereka adalah pemuda Karang Taruna yang tangguh, dan ingin maju berkembang.

Ini seleksi alam. Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan hasil di kemudian hari. Siapa yang diam tak bergerak, akan membusuk bagai air yang menggenang. Bukankah air yang bergerak mengalir lebih menyehatkan?

Justru pada titik kritis ini, pada tahun ke lima, Rumah Baca masih akan terus bergerak mengalir. Menjaga dan merawat mereka yang masih mau bersungguh-sungguh. Dan justru pada titik kritis ini, Rumah Baca mendapat suntikan semangat baru dari para sukarelawan, volunteer, yang masih mau menyumbangkan sebagian energy positif mereka untuk kebaikan.

Mereka adalah Bapak Manuel Iskandar, pernah lama tinggal di AS lebih dari 20 tahun, dan sekarang menjadi guru Bahasa Inggris; Kak Naya, returnee program YES yang pernah tinggal di Oak Park, Illionois, Chicaco; Kak Isabelle, siswa pertukaran pelajar AFS dari Amerika Serikat yang kini tinggal di daerah Cibubur. Ketiganya meramikan suasana pagi itu, 31 Januari 2016, dipandu oleh Kak Imastari Wulansuci, returnee program YES yang pernah tinggal di Palestine, Texas.

Acara dibuka dengan presentasi Kak Naya tentang social media. Ini topik actual, karena hampi setiap anak pasti punya social media. Nah, Kak Naya berbagi pengetahuan tentang bagiamana cara bersosial media dengan aman dan positif. Jangan sampai kita jadi korban bullying, penipuan, atau bahkan penculikan. Kak Naya sudah menyiapkan berbagai alat presentasi, seperti gambar platform media social, seperti Facebook, Twitter, Instagram, hingga platform baru seperti Qlue, yang kini sedang populer di Jakarta sebagai media menampung aspirasi dan keluhan masyarakat kepada pemerintah.

naya

Kak Naya sedang menjelaskan tentang sosial media yang aman dan positif.

Acara dilanjutkan dengan tes Bahasa Inggris dari pelajaran sebelumnya oleh Bapak Manuel Iskandar. Para peserta lumayan grogi dan deg-degan ketika diminta mengisi lembar tes yang dibagikan. Itu adalah tes tertulis, sebagai ukuran sejauh mana mereka mampu menyerap ilmu dari pelajaran sebelumnya.

isk.jpg

Pak Iskandar memberikan kesempatan kepada Isabelle untuk menjadi native speaker.

Nah, kemudian giliran mereka mempraktekan pengetahuan mereka dengan langsung mendengar dan berbicara dengan Kak Isabelle. Kak Isabelle mulai bercerita tentang Amerika Serikat, mulai dari cuaca, makanan, suasana alam, binatang piaraan, hingga perbedaan ukuran. Semuanya disampaikan dalam Bahasa Inggris. Seluruh peserta mendengarkan dengan seksama. Tentu ada banyak kata-kata yang tak tertangkap artinya. Tapi tak mengapa. Hari itu, mereka memang hanya membiasakan diri mendengar percakapan dalam Bahasa Inggris.

isabellle 2

Kak Isabelle dengan gembira menjelaskan tentang Amerika, dalam Bahasa Inggris, dibantu Kak Imastari dan Kak Naya

Maka sesi tanya jawab menjadi seru, karena mereka bertanya sambil terbata-bata, bercampur Bahasa Indonesia di sana-sini. Ini pengalaman paling mengesankan buat mereka. Karena belajar Bahasa tak ada guna kalau hanya menyimpannya di kepala dan tak pernah dipraktekan langsung. Kak Isabelle dengan senang menjawab dan menanggapi semua pertanyaa, termasuk memberi apresiasi kepada peserta yang sudah berani berbicara dalam Bahasa Inggris. Kak Naya dan Kak Imastari turut membantu meramikan sesi pelajaran Bahasa Inggris ini.

Terima kasih semuanya. Semoga jalan kebaikan ini akan terus menular, bergerak, mengalir tiada henti.

The First English

DSC_0636

Bapak Manuel Iskandar sedang menjelaskan tentang perbedaan mendasar Bahasa Inggris dengan Bahasa Indonesia di Rumah Baca

Yang pertama selalu mendebarkan. Perasaan seperti itu pula yang dialami oleh seluruh peserta kursus bahas Inggris gratis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca di hari Minggu, 17 Januari 2016. Kegiatan ini terselenggara berkat kesediaan Bapak Manuel Iskandar untuk mau berbagi ilmu dan meluangkan waktu untuk kemajuan anak bangsa. O ya, pada artikel sebelumnya, pernah diulas siapa itu Bapak Manuel Iskandar.

Kegiatan kursus Bahasa Inggris grartis ini rencananya akan diselenggaran secara rutin setiap hari Minggu pagi, mulai pukul 9 hingga 10, dan berlangsung untuk periode 3 bulan ke depan. Setelah masa itu, akan diadakan evaluasi tentang perkembangan dan kemajuan yang diperoleh, apakah akan dilanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi atau dikembangkan sendiri oleh peserta.

Rumah Baca juga akan berusaha mendatangkan native speaker, untuk menjadi mitra berlatih. Kebetulan pada tahun ini ada anak AFS (American Field Service) yang sedang tinggal di daerah Cibubur. Namanya Isabelle, dari Amerika Serikat.
Pada kesempatan pertama kursus Bahasa Inggris ini, para peserta baru mengenal teori dasar berbahasa Inggris. Dijelaskan pula tentang perbedaan mendasar antara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Perbedaanya terletak pada kata kerja (verb) yang akan berubah mengikuti keterangan waktu. Nah, ada 12 keterangan waktu yang harus dimengerti. Perubahan kata kerja terbagi dalam 2 bentuk, yakni regular dan irregular. Kalau perubahan regular verb itu gampang, karena tinggal menambahkan “ed” di belakang setiap kata kerja. Nah, yang sedikit agak susah itu adalah irregular verb, karena memang harus dihafal. Tapi, tenang dulu. Kalau kita belajar sedikit demi sedikit, dan rutin setiap waktu, insha Allah semua akan berjalan lancar, dan kita bisa menguasai Bahasa Inggris dengan baik.

Nah, untuk latihan pertama ini, peserta diminta membuat sesi perkenalan dengan simple present tense, yang meliputi perkenalan nama, tempat tinggal, hobby, umur, pekerjaan, dan jumlah saudara yang dimiliki. Sesi perkenelan ini kelihatan sepele, tapi ini hal penting karena itulah pintu pertama kita akan bisa berkomunikasi dalam Bahasa Inggris.

Ayo, belajar Bahasa Inggris di Rumah Baca. Gratis! Dan pastti sangat bermanfaat di kemudian hari!

Have a good day and good luck!

Take and give

“Take and give.” Dua kata itu sering diucapakan secara berpasangan, seperti siang dan malam, hitam dan putih, atau sedih dan gembira.

Take anda give, atau dalam bahasa Indonesia berarti mengambil dan memberi. Pertanyaanya, sebarapa banyak kita mampu melakukan keduanya secara berimbang. Jangan-jangan kita terlalu banyak mengambil dan sedikit memberi. Itu memang sifat dasar manusia, maunya enak, dan untung melulu. Tak mau rugi. Ibarat kata, seperti orang yang kelaparan dan masuk ke restoran buffet “all you can eat.” alias makan sepuasnya!

Masalahnya, seberapa besar perut sanggup menampung itu semua makanan? Alih-alih sehat, justru segera terserang kolesterol, serangan jantung, atau obesitas yang merepotkan.

Pada tingkat tertentu, manusia butuh keseimbangan. Ya itu tadi, tak hanya terus mengambil, saatnya juga harus memberi, berbagi dengan sesama.

Rumah Baca Kids kali ini mendapat sukarelawan yang luar biasa! Rumah Baca Kids mengenalnya pada saat ada pameran yang diadakan oleh Kompas, di Mall Living World, Alam Sutera, Serpong, bertajut Inspira(K)si. Dialah, Pak Manuel Iskandar bersama istrinya, Ibu Lan Lan.

Pak Manuel Iskandar ini ternyata pernah tinggal di Amerika Serikat lebih dari 20 tahun. Bekerja di Defense Department of US, atau Kementerian Pertahanan Amerika Serikat. Sering keliling dunia dengan kapal perdamaian milik Amerika Serikat, menjadi tenaga medis di rumah sakit terapung. Pernah berkunjung ke Indonesia beberapa kali, memberikan pengobatan gratis kepada penduduk Indonesia di pulau-pulau terluar dan tak terjamah fasilitas rumah sakit. Di kapal itu, sering memberikan fasilitas operasi, seperti operasi bibir sumbing, dan operasi besar lainnya.

Pernah keliling dunia dan pernah tinggal di Amerika Serikat tak membuat Pak Manuel Iskandar jumawa. Justru ketika kembali ke Indonesia, Pak Manuel Iskandar ingin memberikan sesuatu yang dia bisa berikan kepada bangsa Indonesia. salah satunya dengan menularkan kemampuan bahasa Inggris kepada mereka yang tidak mampu. Rumah Baca Kids menjadi pilihannya karyanya saat ini.

Kebetulan, saat bekerja di Defense Department itu, Pak Manuel Iskandar juga berperan sebagai penerjemah. Jadi sudah menjadi tugasnya untuk menjadi penterjemah ketika terjadi diskusi antara para jenderal angkatan laut Amerika Serikat dengan jenderal Indonesia.

Rumah Baca Kids, tentu sangat merasa bangga mendapatkan beliau untuk mau berkarya, berkiprah untuk kemajuan bangsa melalui pendidikan. Sebaliknya, ini menjadi pertaruhan bagi anak-anak dan pemuda di Bojongkulur untuk bisa membuktikan diri sebagai manusia yang mumpuni, bukan manusia yang selalu kalah, tergusur dan korban dari sebuah jaman.

Bravo! “Hidup hanya sekali, berikan yang terbaik!”

manuel 1

Pak Manuel Iskandar (berkacamata), beserta istri, Ibu Lan lan (paling kiri), di markas Rumah Baca Kids, Bojongkulur, Gunung Putri, Bogor.

 

 

 

 

Inspira(K)si 2015

DSC_0594.JPG

Mempertahankan nafas semangat untuk terus bergerak itu lebih sulit daripada memulai. Rumah Baca Kids sudah beraktivitas sejak 2010, dan sekarang sudah hampir meninggalkan tahun 2015. Waktu lima tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi sebuah gerakan nirlaba, tanpa pamrih. Waktu sepanjang itu juga bukan usia yang pendek bagi anak-anak untuk terus bertahan di sini.

Pada awal berdirinya, Rumah Baca Kids didominasi anak-anak usia SD, yang sebagian besar kini sudah duduk di bangku SMP. Sebagian besar sudah merasa canggung dengan postur tubuh mereka yang besar dan bergabung dengan anak-anak di bawah usia mereka. Padahal, Rumah Baca Kids tak membatasi umur. Siapa saja boleh bergabung demi sebuah kemajuan cara berpikir dan bersikap. Kami juga tak membatasi siapa saja yang mau bergabung sebagai volunteer di sini. Sudah ada beberapa volunteer yang bergabung, mulai dari pegiat sepeda, pegiat HAM dan demokrasi, seniman, pramugari, pegiat AFS, dll.

Sebagian kecil anak-anak di Rumah Baca Kids masih setia, karena memang di Rumah Baca Kids selalu ada yang baru untuk dieksplorasi. Ketika Rumah Baca diundang untuk acara “Inspiraksi 2015” yang digagas oleh Kompas, bertempat di Mall Living World Alam Sutera, Serpong, kami mengajak dua anak Rumah Baca Kids yang sudah terbukti tangguh. Kedua anak ini punya prestasi yang bagus di sekolah. Tak hanya masuk 10 besar, tapi juga aktif dalam kegiatan OSIS. Rasa percaya diri mereka tumbuh dan melampaui anak-anak lain yang tak bergabung di Rumah Baca Kids.

Rumah Baca Kids akan terus berkativitas, karena nafas semangat masih ada pada kami. Melihat mereka tumbuh dan kelak bermanfaat untuk diri mereka dan orang lain, sungguh membanggakan dan tak ternilai harganya.
Rumah Baca Kids hanyalah salah satu derivate atau turunan dari Komunitas Rumah Baca yang dulunya berawal dari kegiatan review buku secara online, yang digagas sejak 2007. Derivate lain adalah Rumah Baca Publishing, yang sampai saat ini sudah menghasilkan 2 buku komersial: “Mabuk Dolar di Kapal Pesiar,” dan “Dilema: Kisah 2 Dunia dari Kapal Pesiar.” Rumah Baca juga telah menghasilkan buku yang dicetak secara terbatas berjudul “Mencari Ayah Yang Hilang,” karya Asjati Rahayu Ningrum. Rumah Baca publishing akan terus berupaya menghasilkan buku-buku yang bergizi dan bermutu.

Kini, Rumah baca juga ikut serta menggerakkan gairah dan energi anak-anak muda untuk menumpahkan energi melalui kelompok musik beraliran reggeae “Papaver Independent.” Kelompok ini telah tampil di berbagai kesempatan, seperti bedah buku di Toko Buku Gramedia Depok, International Youth Music Performance di Bumi Perkembahan Cibubur, dan terakhir di acara Inspiraksi 2015 ini.

Ya, nafas semangat itu masih ada, karena kami percaya bahwa “Hidup hanya sekali, berikan yang terbaik.”

Testimoni anak-anak

Asjati Rahayu Ningrum

astiSaya bergabung di komunitas Rumah Baca Kids sejak kelas 2 SD, dan sekarang saya sudah kelas 6 SD.

Kurang lebih 4 tahun lamanya saya bergabung di komunitas ini. Banyak sekali manfaat yang saya dapatkan. Awal pertama saya masuk di komunitas ini, saya disuruh untuk maju ke depan lalu menceritakan buku yang sudah saya baca atau biasa di sebut story telling di depan teman-teman saya. Di situlah jantung saya berdetak dengan kencang, seluruh badan dingin dan gemetar, konsentrasi pecah karena grogi. Tapi di situlah saya mendapkan rasa percaya diri yang kuat. Dan alhasil, sekarang saya berani untuk presentasi di depan kelas, menari di atas panggung, bahkan bernyanyi di depan banyak orang. Itu perkembangan saya saat bergabung di komunitas Rumah Baca Kids.
Saya ucapkan banyak banyak terimakasih untuk pendiri komunitas Rumah Baca Kids yaitu ibu Indriyani dan Pak Hartono, karena telah memberi saya banyak ilmu dan pengalaman yang sangat berharga

Salsabila Khairunnisa

caca

Salsabila (Caca)

Saya bergabung di komunitas Rumah Baca Kids ini sejak saya kelas 4 SD. Dan alhamdulillah sekarang saya sudah kelas 1 SMP. Sejak pertama saya bergabung di komunitas ini banyak sekali manfaat yang saya dapatkan. Ilmu pengetahuan saya pun bertambah. Setiap saya disuruh story telling badan saya gemeteran, tapi saya yakin saja saya pasti bisa. Semakin lama saya bergabung di komunitas ini semakin hilang pula rasa takut saya untuk bercerita di depan kelas. Waktu saya mau tryout dan UN saya disuruh meminjam buku untuk ujian. Ada 3 buku paket sekaligus yang saya pinjam. Alhamdulillah, hasilnya pun memuaskan. Itulah perkembangan saya bergabung di komunitas Rumah Baca Kids.

Saya ingin mengucapkan banyak sekali terimakasih untuk pendiri komunitas Rumah Baca Kids yaitu Ibu Indriyani dan Pak Hartono karena telah memberi saya banyak ilmu dan pengetahuan yang sangat bermanfaat.

Apa yang bisa kita pelajari dari tikus tanah, burung kecil, dan alat musik Karinding?

Fabel selalu menarik perhatian anak-anak. Tahukan, apa artinya fabel? Fabel adalah istilah untuk menyebut cerita yang menggunakan hewan sebagai tokoh utama. Hewan dalam fabel bisa berbicara dan bertingkah laku layaknya manusia.

Fabel yang berjudul “Mole and the baby bird,” (Tikus tanah dan burung kecil) pagi itu, 12 Maret 2015, sedang seru dipelajari di Rumah Baca Kids. Dongeng berbahasa Inggris ini dibawakan secara fasih oleh Kak Ava dan Kan Virda. Kak Ava adalah returnee AFS yang pernah mengikuti program pertukaran pelajar ke Italia. Saat ini sudah kembali ke Indonesia dan siap-siap untuk bekerja di Indonesia. Kak Ava ditemani Kak Virda, sarjana psikologi yang fresh graduate, alias baru lulus. Kalau Kak Ava pernah ke Rumah Baca Kids sebulan yang lalu bersama Kak Teresa, siswa AFS dari Jerman dan Kak Helene, siswa YES dari Amerika Serikat.

Kak Ava sendang membacakan fabel "Mole and the baby bird.”

Kak Ava sendang membacakan fabel “Mole and the baby bird.”

Anak-anak sedang menyimak buku secara berkelompok.

Anak-anak sedang menyimak buku secara berkelompok.

Kembali ke fabel tentang tikus tanah dan burung kecil, anak-anak di Rumah Baca Kids belajar tentang cara menyayangi binatang secara benar. Burung memiliki sayap untuk terbang, lalu apa artinya kalau kita mengurungnya di dalam sangkar? Biarkan burung terbang bebas, menari, menyanyi, seperti manusia yang menghendaki hidup bebas, mengejar cita-cita setinggi langit.

Dari beberarapa anak yang hadir, ternyata ada dua anak yang mampu membaca teks berbahasa Inggris dengan benar, dan mampu menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Wah, keren! Selamat untuk Opie dan Asti yang sanggup melakukannya!

Setelah asyik belajar bahasa Inggris, giliran anak-anak bermain bersama Kak Varid Putra Mbah Surip dan Kang Entus. Kedatangan mereka diantar oleh kakak-kakak dari band reggeae Papaver Rastavarian.
Kak Varid memgajak anak bergoyang, bernyanyi. Salah satunya yang paling disukai adalah lagu “teko” sambil memperagakan sebagai teko. Anak-anak kini juga punya tepuk tangan khas Rumah Baca Kids. Mau tahu bunyinya? Ini dia…”Prok-prok-prok…membaca, …prok-prok-prok belajar, … prok-prok-prok menyanyi,… prok-prok-prok, menari, …. prok-prok-prok uye..uye..!”

Tahu kan? Kak Varid ini adalah Putra Mbah Surip almarhum yang jenaka itu. Bakat seni Mbah Surip itu kini diturunkan kepada anak laki-lakinya, ya Kak Varid itu. Ha…ha…ha… I love you full!

Kak Varid Putra Mbah Surip sedang mengajak anak-anak untuk ikut menyanyi dan menari bersama. Uye...uye...uye!

Kak Varid Putra Mbah Surip sedang mengajak anak-anak untuk ikut menyanyi dan menari bersama. Uye…uye…uye!

Lalu giliran Kang Entus memperkenalkan alat musik “Karinding” dan “Camplung.” Kedua alat musik asli Sunda ini terbuat dari bambu. Karinding dimainkan dengan cara dipukul-pukul sambil dimasukkan ke dalam mulut. Cara kerjanya mirip harmonica. Cuma bedanya kalau harmonica ditiup atau dihisap, alat ini dipukul-pukul memakai ujung jari secara lembut. Bentuknya pipih dan ada bilah tipis di bagian tengah yang bisa bergetar halus kalau dipukul-pukul. Wah, pokoknya seru deh. Ketika anak-anak diminta mencoba memainkannya, ternyata belum ada yang berhasil. Ternyata susah juga ya memainkannya.

Kang Entus dengan alat musik "Karinding."

Kang Entus dengan alat musik “Karinding.”

Beda dengan alat musik yang satu lagi, yaitu “Camplung.” Kalau alat musik yang satu ini cukup mudah memainkaknya, kaerana hanya dipukul dengan alat pukul saja. Ada 3 bilah nada, dengan satu nada bas. Bunyinya…dang….dung…dang…dung!

Menurut cerita kang Entus, alat musik Karinding ini dulunya dimainkan untuk mengusir hama dan burun-burung di sawah. Bunyinya yang berdengung mungkin tidak disukai hama atau burung yang sedang mencuri padi di sawah, makanya mereka memilih pergi saja daripada tergangu dengan suara Karinding.

Kini, tak banyak yang tahu alat musik ini. Sayang sekali ya. Maka, kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan karya seni budaya ini? Jangan sampai dicuri negara tetangga seperti yang sudah-sudah.

Dari alat musik Karinding kita dapat belajar menghargai karya bangsa sendiri .

DSC_0602



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.