Apa yang bisa kita pelajari dari tikus tanah, burung kecil, dan alat musik Karinding?

Fabel selalu menarik perhatian anak-anak. Tahukan, apa artinya fabel? Fabel adalah istilah untuk menyebut cerita yang menggunakan hewan sebagai tokoh utama. Hewan dalam fabel bisa berbicara dan bertingkah laku layaknya manusia.

Fabel yang berjudul “Mole and the baby bird,” (Tikus tanah dan burung kecil) pagi itu, 12 Maret 2015, sedang seru dipelajari di Rumah Baca Kids. Dongeng berbahasa Inggris ini dibawakan secara fasih oleh Kak Ava dan Kan Virda. Kak Ava adalah returnee AFS yang pernah mengikuti program pertukaran pelajar ke Italia. Saat ini sudah kembali ke Indonesia dan siap-siap untuk bekerja di Indonesia. Kak Ava ditemani Kak Virda, sarjana psikologi yang fresh graduate, alias baru lulus. Kalau Kak Ava pernah ke Rumah Baca Kids sebulan yang lalu bersama Kak Teresa, siswa AFS dari Jerman dan Kak Helene, siswa YES dari Amerika Serikat.

Kak Ava sendang membacakan fabel "Mole and the baby bird.”

Kak Ava sendang membacakan fabel “Mole and the baby bird.”

Anak-anak sedang menyimak buku secara berkelompok.

Anak-anak sedang menyimak buku secara berkelompok.

Kembali ke fabel tentang tikus tanah dan burung kecil, anak-anak di Rumah Baca Kids belajar tentang cara menyayangi binatang secara benar. Burung memiliki sayap untuk terbang, lalu apa artinya kalau kita mengurungnya di dalam sangkar? Biarkan burung terbang bebas, menari, menyanyi, seperti manusia yang menghendaki hidup bebas, mengejar cita-cita setinggi langit.

Dari beberarapa anak yang hadir, ternyata ada dua anak yang mampu membaca teks berbahasa Inggris dengan benar, dan mampu menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Wah, keren! Selamat untuk Opie dan Asti yang sanggup melakukannya!

Setelah asyik belajar bahasa Inggris, giliran anak-anak bermain bersama Kak Varid Putra Mbah Surip dan Kang Entus. Kedatangan mereka diantar oleh kakak-kakak dari band reggeae Papaver Rastavarian.
Kak Varid memgajak anak bergoyang, bernyanyi. Salah satunya yang paling disukai adalah lagu “teko” sambil memperagakan sebagai teko. Anak-anak kini juga punya tepuk tangan khas Rumah Baca Kids. Mau tahu bunyinya? Ini dia…”Prok-prok-prok…membaca, …prok-prok-prok belajar, … prok-prok-prok menyanyi,… prok-prok-prok, menari, …. prok-prok-prok uye..uye..!”

Tahu kan? Kak Varid ini adalah Putra Mbah Surip almarhum yang jenaka itu. Bakat seni Mbah Surip itu kini diturunkan kepada anak laki-lakinya, ya Kak Varid itu. Ha…ha…ha… I love you full!

Kak Varid Putra Mbah Surip sedang mengajak anak-anak untuk ikut menyanyi dan menari bersama. Uye...uye...uye!

Kak Varid Putra Mbah Surip sedang mengajak anak-anak untuk ikut menyanyi dan menari bersama. Uye…uye…uye!

Lalu giliran Kang Entus memperkenalkan alat musik “Karinding” dan “Camplung.” Kedua alat musik asli Sunda ini terbuat dari bambu. Karinding dimainkan dengan cara dipukul-pukul sambil dimasukkan ke dalam mulut. Cara kerjanya mirip harmonica. Cuma bedanya kalau harmonica ditiup atau dihisap, alat ini dipukul-pukul memakai ujung jari secara lembut. Bentuknya pipih dan ada bilah tipis di bagian tengah yang bisa bergetar halus kalau dipukul-pukul. Wah, pokoknya seru deh. Ketika anak-anak diminta mencoba memainkannya, ternyata belum ada yang berhasil. Ternyata susah juga ya memainkannya.

Kang Entus dengan alat musik "Karinding."

Kang Entus dengan alat musik “Karinding.”

Beda dengan alat musik yang satu lagi, yaitu “Camplung.” Kalau alat musik yang satu ini cukup mudah memainkaknya, kaerana hanya dipukul dengan alat pukul saja. Ada 3 bilah nada, dengan satu nada bas. Bunyinya…dang….dung…dang…dung!

Menurut cerita kang Entus, alat musik Karinding ini dulunya dimainkan untuk mengusir hama dan burun-burung di sawah. Bunyinya yang berdengung mungkin tidak disukai hama atau burung yang sedang mencuri padi di sawah, makanya mereka memilih pergi saja daripada tergangu dengan suara Karinding.

Kini, tak banyak yang tahu alat musik ini. Sayang sekali ya. Maka, kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan karya seni budaya ini? Jangan sampai dicuri negara tetangga seperti yang sudah-sudah.

Dari alat musik Karinding kita dapat belajar menghargai karya bangsa sendiri .

DSC_0602

I love you full, ha…ha…ha…!

Belajar tak selalu dengan pergi ke sekolah. Mendapat ilmu juga tak harus selalu dengan membaca buku. Ilmu dan pelajaran hidup ada di mana-mana, seperti pepatah dari luar mengatkan, “every place is school, every people is teacher.” Singkat kata, belajar bisa dimana saja, dengan siapa saja.

Pagi ini, 29 Maret 2015, Markas Rumah Baca kembali guncang oleh hadirnya sosok-sosok sukarelawan tanpa pamrih yang masih punya semangat dan hati nurani untuk ikut serta menyumbangkan tenaga, pikiran dan energi hidupnya untuk kebaikan. Persis seperti kredo Rumah Baca Kids, yang juga diyakini oleh anak-anak di sini, bahwa “hidup hanya sekali, berikan yang terbaik.”

Segala kebaikan hidup pagi ini telah ditularkan dengan tulus oleh Kak Varid. Tahukah kalian? Kak Varid ini adalah putra Mbah Surip, tokoh legendaris yang melahirkan lagu-lagu berirama reggeae nan ceria, seperti “Tak Gendong” atau “Bangun Tidur,” dan terkenal dengan sapaan khasnya:”I love you full. Ha…..ha….ha….!”
Dalam akun Facebook-nya Kak Varid ini memasang nama Varid Putra Mbah Surip. Dia memang anak lelaki satu-satunya dalam keluarga besar Mbah Surip. Saudara lainnya perempuan semua. Menurut penuturan Kak Varid, semasa kecil dia jarang diajak pergi oleh bapaknya, apalagi sampai digendong-gendong. Dia bilang, nggak tahu alasannya mengapa bapaknya berperilaku begitu. Namun demikian, itu tak mengurangi hormat dan kasih sayang kepada bapak yang telah membesarkan dia sampai saat ini.

10464035_932404630124152_7342692919994696114_n

Pagi ini, Kak Varid dan anak-anak pemuda Bojongkulur ikut serta bermain bersama anak-anak di Rumah Baca Kids. Mereka menyanyi, mendongeng, bergerak bersama-sama. Tak ada penonton, tak ada penghibur, semuanya ikut serta bergerak, bergembira bersama.

Maka beberapa rangkaian lagu dan gerak gembira diperagakan seperti lagu “Teko Kecil,” “Abata,” dan “Becak.” Ada senam gembira, seperti senam anggota tubuh dan “senam cacing.” Iiiih geli….. Tapi seru lho! Kak Varid juga sempat mendongeng tentang “Raja dan Dua Anak Putri.” Tak ketinggalan, Kak Varid juga bermain sulap dengan tangan. Pokoknya seruh deh! Semua lagu, senam dan dongeng selalu diiringi dengan gitar kotak khas punya Kak Varid seorang. Kali ini yang main gitar adalah Kak Gunawan, salah satu personel Papaver Rastavarian.
I love you full, ha….ha…..ha….. Oye!

10363785_932404650124150_2446150856310422200_n11112841_932404693457479_1385710657527495138_n

Video Rumah Baca Kids-AFS Chapter Karawang

Pergaulan Lintas Dunia

Kampung Parung, Desa Bojongkulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, boleh jadi dulunya adalah kampung udik, sebelum komplek-komplek perumahan menyerbu wilayah ini. Letaknya berada pada exit tol JORR Jatiasih. Bisa juga ditempuh dari jalan Trans Yogi Cibubur. Pada perempatan Nagrak atau Cikeas, dimana mantan Presiden SBY bersemayam, belok ke arah utara sekitar 7 KM. Di sini, sejak tahun 2010, berdirilah sebuah komunitas dinamika dasar bernama Rumah Baca Kids.

Keberadaan Rumah Baca Kids tak bisa lagi diremehan. Sejak didirikan, kegiatan Rumah Baca Kids sudah begitu banyak, mulai dari kegiatan membaca, menulis, ikut beberapa kali pameran pada festival buku yang diselenggarakan Goodreads, wisata ke kota Tua, wisata Ragunan, membuat video inspiratif, dan membuat berbagai kriya dengan media kertas, keramik, kayu. Keberadaan Rumah Baca Kids kini juga merambah ke kelompok pemuda kampong Parung, dengan kelompok music Papaver Rastavarian, yang beraliran reggeae.

Dari kiprah sejak 2010 itu, Rumah Baca Kids sudah membuktikan diri bukan lagi sebagai komunitas jago kandang, tapi sudah menjadi komunitas lintas dunia. Rumah Baca Kids sudah banyak didatangi tamu dalam negeri, mulai dari mahasiswa, pegiat LSM, seniman, pegiat buku, dan tamu-tamu dari luar negeri. Rumah Baca Kids pernah kedatangan Kak Sarah, siswa Amerika Serikat. Dia adalah salah satu siswa pertukaran pelajar AFS (American Field Service) yang ditempatkan di SMA 5 Bekasi, satu sekolah dengan Kak Imastari Wulansuci (Putri dari Bapak Hartono dan Ibu Indriyani, pendiri Rumah Baca Kids) yang saat ini ikut program YES (Youth Exchange Student) di Texas, Amerika Serikat. Beberapa bulan yang lalu, Rumah Baca Kids juga kedatangan tamu dari pengurus AFS Malaysia, yang terdiri dari Cik Wan, Miss Doris, dan Pak Megat.

Hari Minggu ini, 8 Maret 2015, Rumah Baca Kids kembali kedatangan tamu manca negara yang berasal dari AFS Chapter Karawang. Ada Kak Teresa, siswa AFS dari Jerman dan Kak Helene, siswa YES dari Amerika Serikat. Mereka didampingi Kak Avanti Sukmalanu, returnee AFS Italia, dan Kak Gita Andadari, returnee YES Amerika Serikat. Returnee adalah istilah untuk siswa Indonesia yang telah pulang mengikuti program pertukaran pelajar di luar negeri. Kalian pasti ingin seperti mereka juga kan? Bisa pergi keluar negeri, menyerap berbagai pengalaman di Negara lain, menjadikan kita sebagai manusia yang kaya pengalaman hidup, untuk bekal hidup selanjutnya.

Kedatangan mereka ini atas inisiatif AFS chapter Karawang, antara lain Kak Evi, Kak Tati, dan Kak Wulan. Sayangnya acara pagi itu kurang bersahabat dengan datangnya hujan di tengah-tengah acara berlangsung. Sehingga suasana reriungan yang seharusnya berada di kebun belakang markas Rumah Baca Kids menjadi terhambat dan cukup dipusatkan di dalam markas Rumah Baca Kids saja. Acara dibuka dengan unjuk kebolehan anak-anak dari Rumah Baca Kids yang diawali oleh Ryan yang membacakan cerita pendeknya nan jenaka tentang betapa sulitnya membuat puisi. Dilanjutkan dengan paparan proses penulisan graphic novel oleh Asti dan Opie.

Anak-anak begitu bersemangat ketika diperkenalkan dengan para tamu yang datang pagi itu. Mereka juga sangat gembira karena mendapat sumbangan banyak buku-buku bergizi dari para tamu. DSC_0516 Agar proses diskusi berjalan interaktif dan akrab, anak-anak kemudian dibagikan permen warna-warni. Mereka diminta untuk memilih 1 warna permen yang mereka sukai. Dari pilihan warnan permen itu, mereka kemudian dibagi kedalam 2 kelompok. Kelompok permen warna hijau ikut Kak Helene dari Amerika Serikat, dan kelompok permwen warnah merah dan coklat ikut Kak Teresa dari Jerman. Diskusi berjalan seru dengan lontaran-lontaran pertanyaan khas anak-anak. Kebanyakan berisi pertanyaan tentang bagaimana suasana sekolah di luar negeri, misalnya, apakah kalau sekolah di Jerman dan Amerika Serkat tiap hari harus pakai seragam sekolah? Pertanyaan yang lain, misalnya, ada berapa musim di luar negri itu, berapa kali sehari mereka mandi, makanan utamanya apa, apakah di sana ada orang Islam? Agar kedua kelompok mendapat porsi pengalaman yang sama, kira-kira pada menit ke 30, mereka berganti kelompok. DSC_0532DSC_0535 Acara kemudian diselingi dengan pentas musik dari Papaver Rastavarian. Suasana hujan yang dingin berubah menjadi hangat dan meriah.

Giliran kemudian Kak Tati, pegawai penerbangan Merpati, memberikan penjelasan kepada anak-anak tentang dunia penerbangan. Kak Tati sempat menujukkan video suasana saat pesawat take off dan landing, dan juga suasana di dalam ruang kokpit pesawat. Wah, anak-anak Rumah Baca Kids kini menjadi semakin tahu banyak tentang dunia penerbangan, setelah pada minggu sebelumnya juga kedatangan Kak Caswanto, yang bekerja di Bandara Soekarno-Hatta, dan Kak Riris, yang pramugari Mandala. DSC_0580 Perjumpaan lintas dunia dan lintas profesi ini, tentu menjadi daya dorong yang kuat bagi anak-anak untuk terus tumbuh dan bergerak meraih cita-cita yang lebih baik. Kelak, anak-anak ini akan dapat berkiprah dan  membawa manfaat bagi kehidupan. DSC_0589

Have a nice flight!

Dari sekian banyak anak-anak di Rumah Baca Kids, siapa yang pernah naik pesawat terbang? Tidak ada satupun!

Naik pesawat terbang, bagi sebagian besar orang memang masih merupakan sebuah kemewahan. Meskipun sekarang ini sudah ada meskapai penerbangan yang berani menyatakan diri sebagai “low cost carrier” atau ada yang sampai punya tag line “make everyone can fly.” Nyatanya, terbang dengan pesawat terbang masih menjadi barang mewah.

Tapi itu tak berarti menyurutkan semangat dan minat anak-anak di Rumah Baca Kids untuk tahu seluk beluk dunia penerbangan.

Pada kesempatan acara hari Minggu, 1 Maret 2015, Rumah Baca Kids kedatangan tamu istimewa. Mereka adalah Kak Caswanto dan Kak Riris. Keduanya adalah anak-anak muda yang sekarang bekerja di dunia penerbangan. Kak Caswanto bekerja di ground handling Angkasa Pura, Bandara Soekarno-Hatta. Tugasnya adalah menghubungkan antara pihak penerbangan dengan bandara, diantaranya membantu penumpang yang naik atau turun pesawat, termasuk memandu penumpang transit. Tak jarang Kak Caswano terlihat mendorong kursi roda, membantu tamu-tamu lanjut usia yang sudah tak mampu lagi jalan kaki. Tahu sendiri kan, jarak antara landasan parkir dengan tempat transit penumpang lumayan jauh untuk jalan kaki bagi para manula.

rbk 2

Kak Riris adalah pramugari pesawat. Telah beberapa kali terbang dengan rute internasional, seperti Malaysia, Singapura, dan Hingkong. Banyak pengalaman seru menjadi pramugari, diantaranya sabar menghadapi orang yang bandel dan susah diatur  terkait dengan aturan keselamatan di pesawat. Kak Riris sempat menjelaskan mengapa pramugari tidak boleh jerawatan dan tidak boleh giginya bolong. Keduanya berkaitan dengan tekanan udara yang berbeda antara di darat dengan di ketinggian udara, yang bisa memperparah rasa sakit, terutama bisa menyebabkan perdarahan.

Pertanyanyaan mengalir deras dari anak-anak Rumah Baca Kids. Diantaranya tentang syarat-syarat menjadi pramugari, pengalaman apa yang dimiliki, dan berbagai cerita seru di atas pesawat. Ada anak yang bertanya, apakah orang yang berkulit hitam bisa diterima sebagai pramugari? Ada juga yang bertanya, apakah pramugari boleh punya rambut panjang?

Semua pertanyaan dijawab secara tuntas oleh Kak Riris dan Kak Caswanto di tengah suasana hujan deras.

Kedua kakak-kakak ini dulunya adalah sahabat dekat sewaktu mereka berdua sekolah penerbangan di Jogja. Kak Caswanto berasal dari Indramayu. Kak Riris lahir dan besar di Brebes, meskipun kedua orang tuanya sebenarnya asli dari Sumatera Utara, bermarga Purba.

Terima kasih Kak Caswanto dan Kak Riris yang telah berbagi profesi. jadinya kami tahu, ternyata lapangan pekerjaan itu luas dan banyak sekali. Let’s have a nice flight with you!

Sebagai ucapan terima kasih, Rumah Baca berkenan memberikan kado berupa buku “Mabuk Dolr di Kapal Pesiar” dan “Illegal Alien,” untuk mereka berdua.

rbk 3

rbk 4

Ringgit Malaysia dari Mak Cik dan Pak Cik

Cik Wan, Pak Megat, dan Ms Doris melawat ke Rumah Baca Kids. Mereka bertiga adalah perwakilan AFS (American Field Services) dari Malaysia. Ini adalah kunjungan tamu-tamu jauh yang kesekian kalinya, setelah ada tamu-tamu sebelumnya dari siswa pertukaran pelajar dari Amerika Serikat, Sarah, tamu kurator seni dari Los Angeles, Anne Tucker, dll.

Kunjungan semacam ini diharapkan mampu melecut semangat anak-anak di Rumah Baca Kids untuk menjadi yang terbaik, terus berprestasi, bertanggung jawab, berani, dan mandiri.

Pak Megat, yang mantan polisi, Cik Wan, yang mantan guru teknik, dan Ms Doris, yang bekerja di LSM, berkisah tentang Malaysia. Mereka mengajak anak-anak mengenal Malaysia melalui peta.

DSC_0225

Ketika giliran pertanyaan, ada anak yang menanayakan syarat-syarat ikut program AFS. Pertanyaan ini sangat bagus, berarti sudah ada minat untuk terus maju. Nah, suasana menjadi lebih seru ketika ada anak yang menayakan soal mata uang ringgit. Berapa nilai 1 ringgit malaysia? Ternyata 1 ringgit malaysia = rp. 3.600. Wah, kita kalah ya dengan Malaysia ya? Anak-anak kemudian diberi kesempatan melihat mata uang ringgit yang dibawa oleh Pak Megat, Cik Wan, dan Ms Doris.

Lawatan mak cik dan pak cik ini menjadi lebih segar dan ceria karena mereka ikut bermain bersama anak-anak. Permainan yang mereka mainkan adalah, “deposit-opposite” dan “simon says.” Permainan ini melatih konsentrasi dan motorik. Mereka menjadi semakin akrab dan gembira bersama.

Ms. Doris juga berkesempatan mengajarkan sedikit bahasa Mandarin, seperti apa kabar (ni hao ma), terima kasih (cheche).

Untuk menyambut para tamu, Asti dan Opie dari Rumah Baca Kids tampil membawakan nasakah graphic novel yang telah mereka buat. Sebagai hadiah atas prestasi keduanya, para tamu membeli buku karya mereka, sekaligus memberi kenang-kenangan berupa uang ringgit. Untuk anak-anak Rumah Baca Kids yang lain, mereka mendapat souvenir gantungan kunci dan bollpoint. Wah, senang sekali rasanya.

Terima kasih Pak Megat, Cik Wan, dan Ms. Doris atas lawatannya di Rumah Baca Kids.

DSC_0254

Mengucapkan selamat ulang tahun utk RBGM



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.