Mampirlah ke warung kami

“Bosan Pak belajar menulis dan membaca melulu!” Seru anak-anak di Rumah Baca Kids pagi itu, 24 Maret 2013. Maka demi mengobati rasa kebosanan mereka, anak-anak akhirnya diajak berseni kriya. membuat kerjainan dari bahan kayu sendok ice cream yang sebelumnya telah mereka warnai.

Tak ada yang mengkomando mereka harus bikin apa. Semua terserah mereka. Kami hanya memfasiltasi mereka untuk berkarya dengan menyediakan peralatan dan bahan-bahan yang dieprlukan.

Ada yang mulai membuka-buka buku seni kriya untuk mendapatkan ide. Alhasil, beberapa anak sepakat membuat kedai warung. Sementara yang lain membuat bingkai foto. Hasilnya sungguh mengejutkan.

Inilah karya-karya mereka:

kriya 6

kriya 7

kriya 8

kriya 9

Salam dari Rumah Baca Kids

“Hidup hanya sekali, berikan yang terbaik”

Kursi Kecil Pendongkrak Kemandirian

Di Jawa ada istilah “dhingklik,” untuk menyebut kursi kecil yang biasa dipakai ibu-ibu untuk duduk di lantai sampai  memasak di dapur. Posisi dapur di pedesaan masa lalu memang berada di bawah, tak seperti sekarang dengan posisi di atas dan bisa berdiri. Kursi kecil ini juga biasa dipakai para penjual jamu gendong keliling. Dipakai buat duduk ketika mencampur seduhan jamu dari berbagai kombinasi minuman jamu dalam botol.

Bahan utama “dhingklik” biasanya dari kayu. Berbentuk segi empat dengan 2 papan kayu lebar sebagai penyangga kaki-kakinya. Jika sering diduduki, kursi kecil itu akan licin mengkilap.

Pada masa  kini kursi kecil itu tak lagi terbuat dari kayu, tapi sudah berubah berbahan plastik warna-warni. Bentuknya juga tak harus kotak. Sekarang sudah bervariasi dengan berbagai macam bentuk. Ada yang bundar, oval, dan ada juga yang berornamen gambar Mickey Mouse atau Dora Emon!

Ternyata kursi kecil ini menyimpan daya magis yang luar biasa, jika kita mampu menggunakannya dengan benar. Pada sebuah kegiatan di Komunitas Rumah Baca Kids, yang bermarkas di Kampung Parung, Gunung Putri, Bogor, terlihat kursi kecil itu terlihat di antara anak-anak yang sedang beraktivitas di sana.

Kursi kecil itu bernama "dhingklik."

Kursi kecil itu bernama “dhingklik.”

Rupanya kursi kecil itu dipakai untuk panggung mini ketika anak-anak pentas, membacakan karya-karya mereka. Anak-anak terlihat bersemangat dan percaya diri ketika kaki menginjak kursi kecil itu. Otomatis posisi mereka jadi terlihat menjulang di antara anak-anak lain yang duduk di bawahnya. Suara mereka juga jadi lantang, pandangan mata juga jadi luas menyapu ke seluruh penjuru ruangan.

Tak semua anak berani melangkahkan kaki ke atas kursi kecil itu. Kursi kecil itu menjadi semacam batu ujian untuk mereka. Apakah berani tampil di atas “panggung mini” atau cukup duduk diam mendengarkan? Ternyata dibutuhkan keberanian untuk berdiri di atasnya. Karena tak sedikit dari mereka yang berdiri dan membacakan karya, akan segera disoraki jika membuat gerakan yang kaku atau lucu. Ada juga yang harus pakai acara dipaksa-paksa untuk berani naik di atasnya.

“Dhinglik” atau kursi kecil itu ternyata memang ampuh untuk memompa semangat anak-anak di Rumah Baca Kids untuk berani tampil. Dari sana, akan lahir generasi yang pemberani, mandiri dan kreatif

Ditulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca Kids

Hari Buku Sedunia 7 Maret 2013

Ada kehebohan di Minggu pagi itu, 3 Maret 2013. Anak-anak di komunitas Rumah Baca Kids, yang bermarkas di Kampung Parung, Bojongkulur, Gunung Putri, Bogor, sedang bermain game berupa membuat kalimat. Masing-masing anak diberi kesempatan untuk menuliskan kalimat. Setelah selesai tulisan dalam kertas dilipat dan selanjutnya diserahkan kepada teman di sebelahnya. Maka kalimat demi kalimat mengalir tanpa mereka tahu apakah kalimat itu bakal nyambung satu dengan yang lain.

Tapi sungguh ajaib. Untaian kalimat pada kertas itu rata-rata selalu menyebut Ibu. Misalnya Ibu sedang memasak di dapur, Ibu belanja ke pasar, Ibu mneggendong adik, dll. Barangkali mereka memiliki kedekatan yang tinggi pada sosok ibu di rumah.

Itu adalah permainan pembuka untuk menyemangati anak-anak di Rumah Baca Kids. Permainan itu ibarat energizer, penghancur kebekuan di pagi hari, setelah semalam mendengkur di tempat tidur. Menyongsong hangatnya matahari pagi dan semangat yag harus dipompa untuk hari itu.

PrintTema pertemuan Minggu pagi itu adalah menyambut Hari Buku Sedunia, yang akan jatuh pada tanggal 7 Maret 2013. Anak-anak kemudian diajak untuk bersama-sama menuliskan apa yang mereka pahami dengan buku. Tulisan-tulisan yang dihasilkan cukup beragam. Bahkan ada yang mampu menuliskan dari sudut pandang orang dewasa, seklaigus unik dan mengejutkan. Tulisan-tulisan mereka tentang buku itu kemudian dibundel dalam buletin RUmah Baca Kids yang mereka beri nama “Ayanaon.” (Ayanaon adalah bahasa Sunda untuk Ada Apa – pen). Ini adalah buletin edisi ke-6. Anak-anak di Rumah Baca Kids terbilang rajin berkarya, dan mendokumentasikannya dalam bentuk buletin. Untuk karya kriya, mereka mengumpulkannya di dalam rak, yang berdampingan dengan buku-buku bacaan di perpustakaan. Sebagian karya kriya telah mereka pamerkan dan dari sana mendapat donasi dari para pengunjung.

Anak-anak di Rumah Baca Kids juga pernah menghasilkan karya novel grafis dan dicetak edisi terbatas dan dijual. Hasil penjualan buku disimpan sebagai tabungan pelajar.

Inilah beberapa tulisan anak-anak dari Rumah Baca Kids yang menggambarkan pemahaman mereka tentang buku.

Buletin Ayanaon edisi ke-6, dengan tema "Hari Buku Sedunia."

Buletin Ayanaon edisi ke-6, dengan tema “Hari Buku Sedunia.”

“Buku adalah kertas. Terbuat dari pohon. Pohon yang ditulis sang penulis, yaitu buku. Jika kau ingin menulis. Buatlah kertasnya sendiri dan buatlah buku. Gunakan hati bukan otak dalam membuat buku.” ~ Imantopo Dipo Suksma.

“Buku adalah untuk belajar membaca. Dan untuk mencari ilmu. Dan juga bisa dipelajari saat bersekolah. Kita mencari ilmu dari isi buku. Bagiku buku berguna. Dan buku terbuat dari pohon. Dan kita bisa sekolah. Kalau tidak ada buku ku tidak bisa belajar dan tidak bisa ke sekolah. Ku cinta buku.” ~ Hafiz.

“Buku tuh terbuat dari serbuk kayu. Buku tuh bentuknya persegi panjang. Dan manfaat buku tuh banyak sekali. Seperti dokter. Dokter itu sebelum menjadi dokter, dokter suka membaca buku yang tentang ilmu pengetahuan dokter. Buku banyak ilmunya.” ~ Nur Fadilah.

“Buku gudang ilmu. Buku kalau tidak ada kita tidak dapat ilmu. Buku banyak judulnya. Aku pintar karena buku. Buku kotak dan banyak lembar. Tukang sate masak enak karena ada resepnya di buku. Buku adalah untuk kreatif. Buku untuk menghibur juga. Dan ada juga yang menyeramkan!” ~ Deril Alfian.

“Buku adalah segudang ilmu ku. Buku bisa melewati kebodohan. Bagiku buku bagaikan laut yang luas sekali karna buku memberi pelajaran yang tak ternyangka. Buku terbuat dari kayu atau serbuknya. Buku itu berwarna putih yang halus dan indah. Kita bisa melihat materi pelajaran dengan buku. Buku itu sangat bermanfaat. Bagi kita bermacam-macam. Buku sperti buku pelajaran, dongeng dan cerita.” ~ Chaca.

Itulah sekelumit catatan anak-anak tentang buku. Sungguh mengharukan. Kepada mereka kita titipkan dunia ini kelak.

Reportase oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca Kids.

Semangat Membangun Kesadaran Kritis Sejak Dini

Dari Dunia Maya, Hartono Rakiman Dirikan Rumah Baca Kids
Jawa Pos – 4 Februari 2013. Reporter Gugun Gumilar.

Buku untuk sebagian orang menjadi kemewahan yang tak dapat dibeli. Sebagai orang yang hobi membaca buku, Hartono Rakiman merasakan kesulitan untuk membeli buku. Hal tersebut membuatnya mendirikan Rumah Baca Kids sebagai prngrmbangan dari Rumah Baca yang semula wadah diskusi buku secara online. Rumah Baca Kids lebih dikhususkan sebagai kegiatan yang memberikan ruang kepada anak-anak di Jakarta dan Bogor.

Baca reportase selengakpanya di … http://www.jawapos.com/teks/read/2013/02/04/3/290263/-dari-dunia-maya-hartono-rakiman-dirikan-rumah-baca-kids

jawa pos

Hari Minggu Yang Selalu Seru !

Hari Minggu pagi adalah hari yang selalu ditunggu-tunggu oleh anak-anak di Rumah Baca Kids. Selalu ada yang baru, ada kejutan baru, yang membuat mereka so exicted!

Minggu ini, 3 Februari 2013, Rumah Baca Kids mendapat hadiah besar berupa 5 kardus buku-buku cerita anak-anak dari Perpustakaan SMP Islam Al-Fajar, Bekasi. Wuah, bisa dibayangkan betapa senang mereka! Akan ada begitu banyak petualangan baru, imajinasi baru, menjelajah alam raya dan kehidupan yang sakan tiada habisnya.

buku al fajar

Buku yang dibaca tak boleh begitu saja menguap dari ingatan. Buku dapat dijadikan pelajaran yang akan selalu dikenang sepanjang hayat. Kenangan masa kecil pasti akan selalu diingat. Maka pada minggu pagi itu, anak-anak mulai menceritakan buku yang selesai meraka baca. Caranya adalah dengan menceritakan isi buku itu kepada teman-teman yang lain. Dengan penuh antusias mereka menceritakan buku yang mereka baca.

puput

Tapi….ternyata di tengah-tengah suasana seru itu, pada giliran Rahma untuk menceritakan buku yang dia baca, tangisnya pecah di depan teman-teman yang lain. Mungkin karena belum terbiasa. Rahma masih terperangkap dengan perasaan malu, grogi, dan barangkali takut ditertawakan oleh teman-teman yang lain. No worry, itu adalah bagian dari pembelajaran.

rahma

Baca seru di hari minggu belum berakhir sampai di situ, karena acara dilanjutkan dengan kerajinan membuat pembatas buku dari kertas warna-warni. Seru sekali suasana. Anak-anak asyik berkreasi dengan kertas, gunting dan lem.

aji

Sebagai penutup, ada sesuatu yang mengharukan kami. Ada salah satu anak Rumah Baca Kids yang menyumbangkan buku untuk perpustakaan di Rumah Baca Kids. Sumbangan itu sangat besar nilainya. Sumbangan buku adalah ilmu yang mengalir tiada putus. Itu juga yang sering dikotbahkan di masjid bahwa ilmu adalah salah satu pahala yang tak pernah putus, selain amal jariah dan anak yang sholeh.

adila

Catatan minggu pagi, 3 Februaru 2013, oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca Kids.

Para Malaikat Kecil

malaikat
Anak-anak adalah angels, malaikat-malaikat kecil tanpa sayap. Malaikat yang tak harus rupawan, atau cantik jelita. Anak-anak yang tergabung di Rumah Baca Kids boleh jadi jauh dari kriteria gambaran malaikat yang rupawan itu. Mereka adalah anak-anak Kampung Parung, Bojongkulur, Gunung Putri, Bogor. Sebagian bahkan tampil dekil. Tapi mereka masih menyimpan hati yang bersih. Mereka masih punya semangat yang menyala bahwa hari esok pasti lebih cerah. Dan cita-cita itu bisa diraih dengan terus belajar. Menggali ilmu, salah satunya dengan rajin membaca.

Di Rumah Baca Kids, meraka tidak hanya rajin membaca, tapi juga berkreasi dengan berbagai media: bikin video clip, kerajinan tangan dari barang-barang bekas, kertas koran, menulis cerita, bermain games, dan masih banyak lagi kegiatan yang menumbuhkan kreativitas, rasa tanggung jawab dan kemandirian.

Setiap tahun Rumah Baca Kids selalu ikut kegiatan Festival Pembaca Indonesia yang diselenggarakan oleh Goodreads Indonesia. Sudah 2 kali ikut serta, tahun 2010 dan 2011. Tapi ada kejadian yang cukup membuat para malakat kecil ini bersedih karena tahun 2012 mereka tak bisa ikut serta karena booth pameran sudah terisi penuh sejak pengumuman pertama.

Sudahlah. Mungkin Tuhan punya rencana atas semua ini. Anak-anak Rumah Baca Kids tak surut berkarya. Masih banyak jalan untuk terus memompa diri dengan semangat.

Tapi rupanya Tuhan tidak tidur. Pada acara talks show bedah buku ”Dilema: Kisah 2 Dunia dari Kapal Pesiar” (Rumah Baca: 2012), tiba-tiba ada tawaran untuk bergabung dengan booth Ruang Literasi dari Pro 1 FM (92.1 FM). Wah, senang sekali! Maka anak-anak Rumah Baca Kids kembali bersemangat menyiapkan diri. Hanya dengan persiapan semalam mereka ngebut menyiapkan pameran.

Pada jam 09.00 pagi, tanggal 9 Desember 2012 anak anak Rumah Baca Kids sudah siap di Pasar Festival Kuningan. Disambut oleh Kak Delisa dari Ruang Literasi, anak-anak Rumah Baca Kids mulai menata diri. Belum selesai berbenah, tiba-tiba Kak Fiona, panitia Goodreads memberi kabar yang sangat luar biasa. ”Booth sebelah kosong, dari pada berdesakan dengan Ruang Literasi, silahkan booth itu dipakai saja untuk Rumah Baca Kids!” serunya sambil tangannya tak lepas dengan walky talky untuk berkoordinasi dengan panitia yang lain.

Booth sebelah kosong karena sang penghuni mengundurkan diri pada detik terakhir. Anak-anak langsung berteriak gembira, “Horeeee!”

Mungkin Tuhan merasa belum sempuran jika hanya memberi hadiah para malaikat kecil ini separuh booth saja. Hadiah itu kini telah dibulatkan menjadi 1 booth sempurna: gratis untuk anak-anak Rumah Baca Kids!

Terima kasih Tuhan.

Terima kasih juga kepada Kak Lia, Kak Jimmy, Kak Delisa dari Ruang Literasi. Terima kasih kepada Kak Fiona, Kak Sekar, Kak Aldo, Kak Ronny dari Goodreads yang telah memberi kesempatan kepada Rumah Baca Kids berpartisipasi di acara Festival Pembaca Indonesia 2012. Terima kasih kepada Ibu Indriyani, Ibu Nisa, Kak Bakar Japet, Kak Imas yang juga telah ikut membantu menyiapkan pameran ini.

PS: Reportase tentang dinamika selama pameran akan dituliskan pada episode berikutnya.
cheers

Menghargai buku

Pustakawan, Ibu Siti Munisa (Nisa)


Buku adalah gudang ilmu, jendela dunia, kumpulan pengetahuan, gagasan atau idelaisme penulis yang dituangkan dalam buku, dll. Itu adalah sederet “definisi” tentang buku yang berhasil digali dari anak-anak di Rumah Baca Kids. Persoalannnya adlah bagimana merawat buku dengan baik? Menganggap buku sebagai sahabat yang tidak pernah marah, teman setia di kala sendirian?

Seringkali membaca buku dilakukan sambil tiduran, melipat halaman, bahkan membiarkan buku terlipat, memncorat-coret, memberi tanda dengan satbilo, dll adalah sederet perilaku “dzolim” yang tidak pernah kita sadari.

Pagi itu, minggu pagi, 4 November 2012, Rumah Baca Kids kedatangan seorang pustakawan yang mengerti betul cara memperlakukan buku dengan bener. Dia adalah Ibu Siti Munisah (Nisa), seorang Pustakawan yang berasal dari SMP Al Fajar.

Anak-naka dengan antusiasme nendengarkan pengalaman beliau selama menjadi seorang pustakwan. Anak-anak terlihat menyesal ketika mendengar apa yang mereka lakukan selama ini terhadap buku termasuk dalam perbuatan “mendzolimi” buku.

Semoga dengan kunjugan pustakawan ini, anak-anak menjadi lebih menghargai buku.



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.